
Aku rasa hampir sebagian dari kita pernah membayangkan tentang kehidupan masa tua kelak. Jika kemudian pertanyaan tersebut ditanyakan padaku, pada masa-masa ketika aku rasanya cuma tinggal menunggu mati, aku ingin kembali mengenang masa lalu. Salah satunya tentang kekonyolanku bersama para bajingan itu. Tapi kepikunan adalah ancaman yang nyata. Walaupun pemberitahuan kenangan di masa lalu tersebut bisa saja ada di facebook atau apalah namanya kelak jika masih ada, tapi tetap saja, detail-detail akan kebersamaan tersebutlah yang rasanya terlalu sayang untuk dilewatkan.
Aku putuskan menulis semua ini sekarang, selagi semua masih sangat dekat untuk kujangkau dalam ingatan.
…
…
Awalnya aku mengira kehidupan selepas kuliah akan sangat terasa kaku. Pikiran ini tentu saja tidak terlepas dari kenyataan bahwa kami adalah calon pekerja kantoran pada institusi pemerintah. Bayang-bayang kekhawatiran ini tentu saja telah terpikirkan sejak awal kami masuk ke kampus, bahwa kelak ketika saatnya telah tiba, kami harus, mau tidak mau, siap dengan segala kemungkinan tersebar di seluruh pelosok negeri.
Ketika kuliah, kami dengan caranya masing-masing telah mencoba menikmati semua ketika masanya. Dalam kampus yang luasnya bahkan tidak lebih besar dibanding Taman Suropati- Menteng, tersebut, segala nostalgia itu tercipta. Terlepas dari betapa membosankannya duduk selama 2,5 jam mendengarkan ceramah-ceramah abstrak dari para dosen setiap sesi matakuliah, … (aku bingung mau menuliskan apa lagi, sudahlah) … , kami, kuyakin tetap bisa dan telah berhasil melewati itu semua. Kami telah melewati seleksi alam yang cukup melelahkan selama kurang lebih 4 tahun disana. Dan pada akhirnya, rasa cinta dan bangga terhadap almamater akan tetap ada di hati kami semua. Aku sangat yakin akan hal itu.
Kami pasti kelak akan merindukan tempat itu dan segala kenangan di dalamnya, walau tak akan menjamin kami mau kembali ke tempat itu. Kurasa sebagian besar dari kami berpikiran sama, hanya mau menjalani kehidupan itu, pada masa itu, sekali itu saja, karena memang hidup mesti terus berlanjut.
…
…





Buku tentang penyair legendaris yang ditulis oleh kawannya, seorang tokoh kritikus sastra legendaris, H.B Jassin.




